Sattar Taba Cerita Bencana Menyeramkan di Palu

Direktur Utama PT. Kawasan Berikat Nusantara (Persero) menuturkan kengerian bencana alam yang terjadi di Sulawesi Tengah. Menurutnya, bencana yang terjadi di Palu, Donggala dan Sigi berbeda dibanding bencana yang terjadi daerah lain.

"Biasanya bencana alam yang menimpa suatu daerah itu hanya satu atau dua. Tapi di Sulawesi Tengah ini tiga bencana alam sekaligus, yaitu gempa, tsunami dan likuifaksi," kata Sattar Taba pekan lalu, pada acara pelepasan bantuan 4 kontainer dari KBN untuk korban bencana di Sulawesi Tengah.

Mantan Direktur Utama Semen Tonasa ini mengatakan, bencana alam likuifaksi itu mengerikan. Ia mendapat cerita dari kerabatnya yang selamat dari bencana tersebut.

"Rumah berjalan sendiri, kemudian rumah-rumah tenggelam ke dalam tanah yang berupa lumpur, terus seperti diblender," tutur Sattar Taba menirukan cerita kerabatnya yang berhasil selamat.

Sattar Taba mendoakan agar para korban bencana diberi kekuatan dan ketabahan. Dia juga berharap bantuan yang dikirimkan oleh KBN, dari hasil gotong royong seluruh insan KBN dan para investor, bisa meringankan beban para korban bencana di Sulawesi Tengah.

Peristiwa likuifaksi atau pencairan tanah bagi banyak ahli maupun peneliti kebumian merupakan hal biasa. Namun, yang terjadi di Kabupaten Sigi dan Palu sesaat setelah gempa dengan magnitude 7,4 skala Richter menggoncang Timur Laut Donggala pada Jumat (28/9), memang menyeramkan.

"Itu adalah contoh likuifaksi yang paling menyeramkan yang pernah saya lihat. Banyak suara-suara aneh terdengar," kata Ahli Geologi dari Universitas Saint Louis AS, John Encarnacion menanggapi video-video peristiwa likuifaksi yang terjadi di Kabupaten Sigi dan Kota Palu kepada Antara melalui pesan singkat.

Ia menduga seluruh kawasan di dalam video tersebut sebenarnya berada di atas endapan lumpur dan pasir dari pesisir atau sungai yang tidak terkonsolidasi dan jenuh dalam air. Ketika material itu terguncang oleh gempa bumi maka tanah menjadi mencair.

Usia endapan pasir dan lumpur tersebut, menurut perkiraannya proses pembekuannya dapat mencapai ribuan hingga puluhan ribu tahun.

"(Usia) itu sangat muda dan tidak cukup waktu untuk berubah menjadi batu. (Likuifaksi) ini sebenarnya adalah situasi yang sama terjadi di banyak wilayah pesisir," ujar dia. (*)

Berita Lainnya